A Son Will Be A Father And A Father Will Always Be A Son
Published December 6th, 2006 in General.
I was once like you are now, and I know that it’s not easy,
To be calm when you’ve found something going on.
But take your time, think a lot,
Why, think of everything you’ve got.
For you will still be here tomorrow, but your dreams may not.
Pasti sudah tau kan itu potongan lagu apa?
Yak betooollll!!! Itu dari Father and Son karyanya Cat Stevens, salah satu musisi favorit saya. Lagu itu meresap betul dan bikin saya selalu inget Zidan dan Bapak di Jogja. Father and Son menghubungkan mereka berdua dalam hati saya.
Pertama, karena bapak adalah tipe ayah seperti yang diceritakan di lagu itu. Lengkap dengan gaya feodal khas jawanya, tapi mengakui semua pemberontakan saya. Dengan berat hati beliau selalu menyetujui semua keputusan saya mulai dari aktif di rimba gunung, panjat tebing, ambil jurusan kuliah yang “nggak semestinya”, fotografi, masuk LSM, ngurusi mesjid kampus (kecuali yang ini), jual motor buat beli lensa, jual lensa buat sekolah lagi, nunda lulus, nikah muda dan … wah banyaklah. Awalnya melarang, tapi karena nggak banyak pengaruhnya lama-lama beliau pasrah juga. Terserah saya maunya apa, nanti kalo udah nyoba semuanya kan baru berhenti, kurang lebih begitu beliau pernah katakan. It’s hard, but it’s harder to ignore it.
Bahkan sebelum saya pindah kerja awal tahun ini, Bapak masih wanti-wanti untuk nggak usah pindah, mending kerja di perush. malaysia daripada jepang, setidaknya masih sama-sama sholat. Beralasan tapi buat saya nggak relevan. Saya bilang, yang jelas sih sama-sama jadi buruh Pak, dulu TKI sekarang Heiho. Ya tentunya setelah itu saya yakinkan beliau bahwa apapun alasannya, sholat nggak boleh terhenti. Kalo Bapak saya lancar inggerisnya pasti beliau akan bilang, “It’s not time to make a change, just sit down, take it slowly”.
Kedua, Zidan. Saya berencana untuk demokratis terhadap Zidan kelak sampai dewasa. Saya percaya, yang dibutuhkan anak bukan mengekangnya, tapi ngasih arahan yang bener dan mempercayainya. Terserahlah nanti Zidan mau jadi apa aja asal positif, ya kalo saya sih maunya dia jadi hacker. Serius!!! Dunia juga butuh hacker yang baik budi bukan.
Tapi kalo dengerin Father and Son lagi saya jadi sadar terlalu mengarahkan. Bukankah yang pingin jadi hacker tapi nggak kesampaian itu saya, kenapa lantas Zidan yang menanggung bebannya. Akhirnya sama aja dengan waktu Bapak pingin saya jadi Geologis ato ilmuwan. Kalau saya sih (sepertinya Bapak juga begitu) karena khawatir Zidan salah ambil jalan, jadi pinginnya selalu mendampingi. Stay Stay Stay, why must you go and make this decision alone?
Tapi sudahlah. You’re still young, there’s so much you have to go through, Zidan. Ronn, ujar Bapak lirih.
aku kangen bapakku.
bapakku seorang petani jujur dan baik hati, bukan anggota wakil rakyat yang kaya raya, suka main wanita, tiap hari pesta, punya mobil lima, meskipun rakyatnya hidup menderita, dasar pengkhianat bangsa ! satu lagi, hobinya bikin film sepep. (aka. bokep).
(comment yg aneh, relevan gak siy ?) :p
wow. satu lagi cerita bapak-anak, tentang anak bukan kepanjangan cita-cita bapak (siapa ini yang bilang, ya?). beberapa bulan lalu waktu cerita-cerita soal anak-bapak-anak dengan seorang kawan, saya segera ingin menulis di blog soal “nama”. hmm, ternyata saya termasuk yang “membebani” nama anak dengan ego-bapaknya:)
tapi, duuh, malasnyaa buat ngupdate blog. ntarlah, kalo udah jadi nulis tentang nama itu, saya akan ngelink ke sini: salah satu tulisan yang mengingatkan saya untuk segera menulis tentang itu.
sebulanan lagi, anak ketiga kami akan lahir. dan sampai kini saya belum kepikiran sebuah nama pun. padahal, biasanya, nama itu sudah siap jauh-jauh hari. hm, rasanya saya akan tetap membebani anak ketiga ini dengan ego-bapaknya, karena udah “terlanjur”. terlanjur? halah.