Selamat datang di Indonesia. Silakan menjual apa saja disini, dari Lamborghini hingga tusuk gigi bajakan asal Cina. Dijamin laku.
Di Amerika, iPhone hanya menarik 9% pengguna handphone, Nokia Communicator yang disini merajalela itu bahkan tidak dilirik sedikitpun. iPhone boleh saja fenomenal & sangat inovatif. Tapi ketergantungannya terhadap internet dan ketiadaan keyboard, atau keypad, membuat orang berpikir ulang. Tapi di Jakarta, ribuan orang sudah ancang-ancang untuk beli device itu, meski tahu kalau disini tidak banyak berguna. Baca SMS di iPhone gitu loh, bedaa lah Jeng!
Awal pekan kemarin, peluncuran Communicator E90 sangat hingar. Mereka rela antri dari jam 2 malam demi handphone batu-bata seharga 15 juta itu -harga resminya 10.9 juta-. Malah ada orang Jakarta yang berani membayar US$5000 untuk E90 pertama yang diluncurkan di Bangkok beberapa bulan lalu. Glekkk. Ada juga satu klien mobile push e-mail bahkan menyasar Ibu rumah tangga sebagai target utama. Alasannya karena mereka-mereka itu pemilik PDA & smartphone terbanyak, dan si klien ini sedang berusaha mengajari pasarnya untuk bergosip via milis. Apa mau dikata, ini negeri penuh anomali.
Dan baru-baru ini saya ikut pemotretan untuk iklan sebuah bank dengan properti utama Ferrari Spider F360 terbaru, langsung keluar dari dealernya. Dengan jalanan kaya gini, ada juga yang iseng punya mobil begituan. Hmm… Tapi ternyata mobil 5 milyar itu tidak sendirian di Jakarta. Kabarnya sudah ada 5 mobil serupa yang berkeliaran. Wakkss… banyak amat! Itu belum seberapa, karena ada 7 mobil seri lain, Enzo, yang harganya hampir 3 kali lipat sudah wira-wiri sejak lama. Semakin mahal semakin laku kata si bapak dari Ferrari. Alasan yang sama untuk boomingnya Communicator.
Pantas saja selama ini kami tidak butuh riset pasar yang komprehensif untuk membuat sebuah iklan. Riset akhirnya hanya formalitas, paling-paling untuk narik selisih fee. Dengan asumsi kasar dan data-data minimal saja, pasar sudah terbaca jelas. Orang Indonesia yang kompleks itu sebenarnya tidak neko-neko. Prinsip yang berlaku cuma satu: kalau punya uang ya langsung dibelanjakan. Punya duit 3000 belanja 3500. Jadi apalagi yang mau disurvey? Orang dengan gaji B hanya bisa beli barang B? Ah lupakan teori itu. Kalau bisa beli barang A, atau malah A+. Mau ngutang atau sikat kiri kanan, urusan belakangan.
Jadi, emang lebih enak kan SMSan di hape 3G? Keypadnya lebih empuk.
* Teriakan dari blog sebelah: Mas, tema kaya gini kan sudah basi, koq masih dibahas?
Saya teriak balik: Sekarang udah 3,5G Pak! :p
wah saya baru pake 2.5G, teknologi 3G blom sempet cicipi, eh malah 4G dah nongol di jepang. tapi kalo G5 (gogel five!) malah udh dari jaman dulu.. :p
Ferrari di jkt? jadi inget cerita di desa, juragan2 ternak ato sawah beli kulkas guede (besarrr) tapi listrik blom ada, alhasil cmn buat lemari!
jadi ferrarinya mau buat apa? (usaha rental utk poto iklan?)
HPku malah 5G: Ga Gaul Ga Gaya Gausahditanyatanyalagideh!
Kalo saya pilih iPod 5,5G + handphone 1G….. tapi kalo gitu mending iPhone sekalian dong ya
BUkan anomali itu pak fah … wong udah umum terjadi disini
Namanya juga negeri anomali pak nanang, heheh.
“Prinsip yang berlaku cuma satu: kalau punya uang ya langsung dibelanjakan. Punya duit 3000 belanja 3500. ”
Nulis pengalaman sendiri di rumah ya?
Nah makanya itu nggak butuh riset lagi untuk sekedar tau perilaku itu
yg penting bs makan dgn enak n kenyang sambil lirak-lirik liat cewek.
beruntunglah aku masih jomblo…. (keputusasaan yg menyenangkan)
Hiks…Hiks…Jakarta, Eits… salah. Indonesia ding.
Memang ada yang salah ya dengan iPhone? soalanya kantor juga pakai iPhone-nya Cisco. Keren! Kayak di filem ‘Mission Imposible 3′
makanya bilang ke profesional pemasaran asing yang baru datang ke indonesia untuk jangan pada sok jago. Ilmu dari amrik berbeda dengan ilmu disini. hihihihi
artikel dan komentarnya membuat saya tergelitik tak tahan untuk tertawa… hehehehe
kira2, solusi apa yang bisa ditawarkan oleh bapak supaya orang-orang indonesia yang bergaji B bisa beli B+ tidak melakukan hal demikian???
Perubahan apa yang bisa dilakukan??
Peningkatan pajak bagi orang2 kaya? atau lebih ekstrim lagi, pengadilan bagi orang2 yang membeli mobil mewah dengan harga tidak masuk akal??
Kalau sebutannya solusi mungkin kurang tepat ya pak, karena ini termasuk kategori penyakit moral. Saat ini seluruh bangsa memang sedang menderita penyakit semacam ini, jadi harusnya perubahannyapun harus secara besar-besaran dan menyeluruh. Katakanlah Presiden, seluruh menteri dan pejabat2 negara serentak memulai penggunaan produk nasional dan mendorong produksi barang lokal dengan kualitas bagus dan berharga rendah. Sehingga kita punya teladan untuk itu.
Jujur saja merk terkenal dari luar memang punya kualitas yang lebih bagus. Misalnya saja sepatu Adidas dengan Eagle, secara kualitas memang jauh. Kalau ada yang bilang produk kita nggak kalah, ya mungkin hanya satu dua. Bukannya kita tidak bisa membuat produk bagus, tapi dengan alasan pricing & daya jual masyarakat, akhirnya banyak produsen yang mengorbankan kualitas untuk pasar domestik. Padahal ketika mereka memproduksi barang untuk merk luar, kualitasnya bisa bagus, sebut saja sepatu Nike yang diproduksi disini.
Asal pemerintah serius dan bukan hanya kampanye sesaat pasti perubahan akan terjadi. Memang akan memakan waktu, tapi tetap harus dimulai kan. Toh Mahatma Gandhi berhasil mengubah kebiasaan rakyat India secara total.
“Asal pemerintah serius dan bukan hanya kampanye sesaat pasti perubahan akan terjadi. Memang akan memakan waktu, tapi tetap harus dimulai kan. Toh Mahatma Gandhi berhasil mengubah kebiasaan rakyat India secara total.”
nah itu dia maksudnya… thanks atas respons-nya