Being (useful) human
Published March 14th, 2007 in General.
Kali ini ijinkan saya untuk nulis sedikit tentang bidang pekerjaan saya: Advertising. Saya sudah janji untuk tidak menyinggung dunia itu dalam tulisan saya yang lalu. Namun ada yang mengganjal sehingga saya harus melakukannya.
Seorang kenalan, sebut saja Fulanos, berapi-api menyatakan bahwa suatu saat advertising pasti akan ngetop dan dipandang sejajar dengan profesi lain. Katakanlah dokter yang mulia itu, atau imuwan yang sangat dihormati orang itu. Saya bilang, “Mbelgedes! Nggak akan om, kecuali….” Iya saya yakin advertising tidak akan mendapat tempat semulia itu kecuali ia benar-benar memberikan kontribusi positif yang nyata bagi manusia. Selama ini, iklan itu cenderung mengganggu. Mau bagus dan menang award atau mau jelek dan ngerusak suasana, sama saja. Keberadaannya mengganggu.
Dan orang melihat iklan karena terpaksa. Kalau saja iklan bisa dihilangkan dari program acara yang sedang tayang, mereka pasti akan melakukannya dengan suka cita. Cuma orang iklan yang melihat iklan.
X: Loh tapi advertising kan berperan mengubah peradaban! Buktinya liat didepan mata, manusia melakukan apa saja yang diperlihatkan di iklan-iklan. // Y: Menciptakan trend iya, tapi kalau mengubah peradaban, apa betul begitu. Apakah David Ogilvy mempermudah hidup manusia sebagaimana Graham Bell menghadirkan telefon? Kalau trend sih gampang, karena ia adalah bagian dari peradaban yang paling labil digoyang zaman. Tapi kalau cara hidup manusia dengan segala kemudahan dan arah pikirannya, nggak semudah itu diutak-atik.
X: Terus apa yang harus dilakukan? // Y: Ya nggak usah memaksakan diri untuk menjadi ngetop atau disegani. Wong tugas kita itu memang dibelakang layar. Kalau pingin ngetop ya jadi bintang iklan saja. Peran orang iklan itu membuat iklan, ya sudah buat saja semaksimal mungkin. Buatlah yang paling baik sambil berharap hasilnya bisa bermanfaat bagi manusia lainnya.
X: Kalau ternyata nggak ada manfaatnya? // Y: Bukannya iklan itu memang nggak ada manfaatnya bagi banyak orang, jadi memang takdirnya begitu. Wong memang digariskan untuk bekerja dibawah naungan duit klien. Kalau ternyata suatu saat bermanfaat dan ngetop, ya itu namanya bonus (bonus gede maksudnya, bukan kaya’ bonus tahun ini yang cuma separuh gaji :p).
Saya yakin, bermanfaat itu nggak harus dimulai dengan niatan bombastis atau terdengar keren. Dmitri Mendeleyev, hanya menjalankan tugasnya sebagai dosen yang baik. Dia cuma ingin mahasiswanya mudah mempelajari unsur mineral alam saat secara tak sengaja menemukan sistem yang sekarang kita kenal sebagai Tabel Periodik Kimia. Larry Page dan Sergey Brin juga hanya ingin membuat sistem pencarian informasi yang cepat dan akurat bagi penghuni kampusnya ketika akhirnya menemukan Google, pencari terbesar itu -tentang apa hebatnya Google, saya ceritakan lain waktu-. Mereka hanya orang-orang yang menjalankan tugasnya dengan benar ditambah niat baik untuk membantu manusia lainnya. Nah ini yang sebetulnya belum bisa saya lakukan. Melakukan sesuatu dengan tambahan niat membantu orang lain. Saya terkadang masih terjebak untuk memanjakan diri sendiri, melakukan sesuatu yang hanya saya sukai. Membuat iklan misalnya.
Ko malah kebalikan…sekarang, aku gak bs sesuka hati bikin acara yang aku senangi, tp harus “ngalah” sama selera pasar, klien, atau pertimbangan rating-share program nantinya…kl istilah salahsatu EP ku, “jangan ‘beronani’ kl mau bikin program!” jadilah terkadang aku menghadirkan artis yang gak kusuka, lagu yg gak kusuka, atau tema yang gak aku suka. Mo gimana lagi…msh jd karyawan hehehe… (sori, koment nya panjang
)
Halo Mas Roni! Org makan McD, minum Coca Cola, ato takut Burket itu kan kontribusi kita
Gitu menurutku Mas Roni.
Iklan itu kan supporting system utk pemasaran, jd mau ndak mau keberadaannya ngikut ke mana induk semangnya berlalu [pemasaran dlm hal ini termasuk pemasaran sosial/ LSM dg salah satu outputnya ILM].
Kontribusi scr langsung ya kpd klien dong, ato klo mo lbh jujur ya kpd brand. Kontribusi kpd masy pasti tercipta atas sinergi kita dg klien/brand. Bukan hanya karena mereka yg bayar lho, tp lebih karena kita tercipta memang sbg supporting system mereka.
Kontribusi iklan yg brsinergi dgn proses pemasaran ya jelas ada, tp apakah itu mjd kontribusi positif ato negatif, ya balik pada obyektifnya apa. ILM pun klo obyektifnya cm cari award ya ndak akan berbuah apa-apa selain piala.
Balik ke masalah ngetop apa ndak, ngetop yg dimaksud kay apa. Klo mau kay Roy Marten ya ndak bisa. Parameter ngetopnya ya hrs sesama supporting system, yakni kehumasan, persh. riset, ato biz consultant, jd Hermawan Kertajaya, Al Ries, Jack Trout VS David Ogilvy.
Pun top-nya Graham Bell ya hanya bs dibandingankan dgn Gutenberg, Edison, ato Watt.
Ato gini deh, kontribusi Graham bell dgn AA Gym gedean siapa
masa, sih, mas, ngga pernah dengar tentang ini: http://blogger.xs4all.nl/marcg sama ini: http://www.bigthinkstudios.com/ dan ini: http://www.undergroundads.com/index.php ?
masa, sih, sampeyan ga bisa “melakukan sesuatu yang hanya saya sukai”, yakni “membuat iklan”, sambil “niat membantu orang lain”–bukan membantu multinational corp? (halah. sambil menyelam glagepan.)
meninggalkan rasa aman, yuuk –> bila sedia minum racun, japri saja ya.
*lagi nyari mitra;)*
buat mas Wiras (”kontribusi Graham bell dgn AA Gym gedean siapa?”)
maksudnya alex graham bell, yang kata wiki “recognized inventor of the telephone, however is disputed to be the second inventor of the telephone, after Antonio Meucci or maybe Philipp Reis”?
btw. aa gym sudah bikin apa buat kemanusiaan? manajemen qolbu? mmm, selalu tampil “bijak” (bijak versi aa: selalu menengahi, jaga citra moderat, fokus olah rasa sambil jarang ngajak olah pikir, dsb)?
saya kok kurang sreg, ya, ama aa diponegoro, eh aa gym, itu? apa mungkin karena saya termasuk di antara yg yakin: “terlalu banyak manajemen qolbu (mq versi aa) tanpa banyak manajemen pikiran sama dengan keterjebakan”, apalagi dalam soal agama…. contoh: orang tertindas bisa menjadi segan berontak merebut haknya gara-gara “mengelola qolbu”-nya. ^^
pis, pis.. salam kenal, mas wiras
your dating other guys, your telling me lie. Ulf Raharjo.
Wah sekarang spam udah pake nama Indonesia. Ehehe.
and oh i with my girl who i though was my worl. Joey Hadassah.