Green Please!


Sebagai fans Green Peace yang menyumbang tiap bulan, dua minggu lalu saya memperoleh laporan kegiatan Green Peace Asia Tenggara. Fokus untuk tahun ini masih seputar konservasi dan pemanfaatan hasil hutan Papua melalui kearifan lokal. Artinya penduduk setempat didorong untuk memanfaatkan hasil hutan seperlunya, seoptimal mungkin sesuai kebutuhan hidupnya. Satu keluarga satu pohon. Selama ini penduduk setempat menjual pohon-pohon yang tumbuh di tanah mereka secara membabi buta dengan harga yang sangat murah. Dan ribuan kubik kayu terbaik dari Papua berlayar dengan santainya ke Jakarta, Malaysia, Filipina bahkan Cina tanpa meninggalkan kontribusi (belum lagi yang dicuri). Sekarang mereka diajari mengelola setiap batang pohon yang mereka miliki untuk dijual sebagai kayu olahan. Diharapkan, selain bisa meningkatkan derajat hidup, cara ini juga menyelamatkan hutan Papua.

Fifi sempat mempertanyakan kenapa saya daftar Green Peace segala. Tapi waktu saya katakan bahwa ini adalah salah satu bentuk kontribusi nyata dalam merawat hutan Indonesia, dia manggut-manggut saja dan langsung setuju. Setelah sekian lama sejak meninggalkan Mapala Fisipol UGM, akhirnya saya terlibat lagi dalam kegiatan semacam ini. Tentu saja tanpa harus mendaki Lawu dan berkemah di kakinya selama 9 hari dengan hanya memakan arbei hutan, batang rumput dan jamur-jamuran (btw, inilah penyebab saya nggak mau makan jamur lagi). Buat saya, aksi-aksi heroik semacam itu sudah tidak mungkin dilakukan lagi. Saya pikir, menyumbang tiap bulan untuk mendanai aksi penyelamatan lingkungan yang dilakukan orang lain, sudah cukup.

Sampai akhirnya 2 hari lalu, tetangga bilang bahwa pohon mangga tua setinggi 25 meter di dekat rumah akan dijual seharga 2 juta untuk menutup biaya hidupnya. Saya diam saja tanpa memprotesnya. Bengong seperti habis ketilang polisi atau kecopetan (buat saya dua-duanya sama saja). Bahkan lebih terdengar sebagai mengiyakan rencana itu. Tiba-tiba saya merasa seperti orang-orang Papua yang membutuhkan lebih banyak lagi uang daripada yang bisa dihasilkan oleh sebatang pohon. Tiba-tiba saja saya setuju bahwa menjual hutan adalah cara yang tepat untuk menyejahterakan.

Pohon itu telah memecahkan rekor sebagai pohon tertinggi dalam radius 500 meter dari rumah. Gara-gara dia, udara yang masuk ke rumah serasa hembusan AC 2 PK. Zidan sudah terbiasa melihat pohon itu sejak masih berusia beberapa hari. Dia sangat suka tarian dedaunannya yang selalu terlihat megah dan bentuknya yang besar memenuhi langit. Hingga sekarang.

Sebenarnya, tak jauh dari rumah bergerombol hutan UI yang asri dengan 6 danau alaminya tempat kami biasa menghabiskan akhir pekan. Tapi mereka terlalu jauh untuk memayungi rumah kami dari panasnya Jakarta. Burung-burung yang bertengger di dahan disana sudah tak terdengar dari teras karena saking jauhnya. Dan mata Zidan juga tak mampu menangkap detilnya. Kami lebih butuh satu pohon besar itu.

Saya, Zidan, Fifi, Joni (kucing kami) dan burung-burung pasti akan kehilangan pohon mangga tua itu. Tapi apa mau dikata, si anggota Green Peace yang mengaku telah memberikan kontribusi pada alam ini ternyata cuma berani memprotes & menggerutui hutan yang jaraknya sejauh Papua. Ternyata, meminjam tangan orang lain memang tidak butuh keberanian.


0 Responses to “Green Please!”

  1. No Comments

Leave a Reply





Pics