Hibernasi

Ransum selama hibernasi

Alasan saya tidak ngeblog dari dulu-dulu adalah karena khawatir tidak bisa mengurusnya secara rutin. Untuk yang satu ini saya punya bakat kuat. Bukan karena takut patah ditengah jalan, tapi karena saya punya kebiasaan menyembunyikan diri dari hiruk-pikuk selama satu-dua bulan. Lalu satu-dua bulan selanjutnya saya kembali seperti biasa, banyak bicara, corat-coret dan menyediakan diri untuk di buzz di Yahoo Messenger setiap saat. Itulah siklus tahunan saya yang tidak banyak disadari orang, sebelum hari ini :) . Dan jujur, saya menikmati siklus ala gerilyawan ini. Ada saat dimana saya memberondong, lalu menyelinap lagi merancang strategi sambil mengisi pelor.

Pun dengan November ini, saya sibuk menutup sela kerja dengan merakit Tamiya berpenggerak dinamo, kali ini replika Nissan 350Z Fairlady, salah satu sport coupe Jepang yang saya kagumi desainnya. Selebihnya, menginstal beberapa judul buku dan sekitar lima-belas majalah kedalam otak. Kebetulan pertengahan bulan ini saya diberi mandat oleh kantor untuk menghabiskan satu-setengah juta rupiah untuk membeli majalah impor apa saja yang gambarnya bagus-bagus (bukan yang “lucu” loh :D ) sebagai bahan referensi. Saya bersuka cita menyambutnya seperti beruang Grizzly yang dikirimi satu ton Salmon ditengah musim hibernasi.

Beberapa buku terjelajahi, ada Psikologi Imajinasi-nya Jean-Paul Sartre yang ternyata tidak begitu penting (menurut saya), juga bukunya Fifi yang memang betul-betul bagus itu. Mr. Bean’s Scrapbook yang awalnya cuma saya lirik, namun ternyata menginspirasi banyak ide. 1000 Type Treatments yang memaksa saya belajar tipografi lagi. Dan dua-tiga buku lain yang terhenti ditengah jalan karena terlalu menguras waktu tanpa banyak yang bisa dipetik. Tapi yang paling saya suka adalah bukunya David A Vise “The Google Story” versi terjemahan. Usai sekian tahun dibuat takjub oleh Google dengan kemampuannya menemukan apapun yang saya cari di internet, kali ini saya diberi tahu segala sesuatu tentangnya.

Seperti buku-buku bagus lainnya, The Google Story menampilkan kemustahilan-kemustahilan yang akhirnya masuk akal. Inovasi-inovasi yang seolah tidak datang dari bumi dan langkah tidak lazim yang selalu diambil, misalnya bagaimana Google yang besar dan kaya raya itu ternyata memakai komputer rakitan sendiri sampai sekarang. Juga sistem pengaturan perusahaannya yang tidak memiliki middle-management selayaknya hirarki perusahaan tradisional lain. Atau lingkungan kerjanya yang lebih mirip taman bermain dengan seribu balita didalamnya. Melewati tiap halaman buku ini seperti sedang membaca Tin-tin atau Asterik: Sangat menyenangkan!

Tapi karena saya tidak sedang meresensi, jadi saya sudahi saja cerita tentang buku ini. Kalau mau diskusi tentangnya, kapan-kapan kita bisa janjian di kedai kopi langganan. Dan untuk Anda yang penasaran, monggo mencarinya di Gramedia dan toko lain seharga Tujuh-puluh-lima ribu. Insya 4jjl tidak akan menyesal.

Dan akhirnya, inilah saya, mampir lagi untuk menyapa fahroniarifin.com dan Anda sang pembaca tercinta. Mohon tidak bosan dan sakit hati karena datang tanpa menemukan sesuatu yang baru. Assalamu’alaikum.


3 Responses to “Hibernasi”

  1. 1 66

    Ron…drpd dikeroyok orang2 krn gambarnya dibilang mirip layout aksara, mending pasang muka gua aja. Dijamin original dan menjual. Sip?

  2. 2 Fahroni Arifin

    Makanya bantuin biar dapet meja yg lebih gede La’ (kurang ya? :D ), sukur-sukur lemari guedee. Udah gak muat nih makanya asal tumpuk2.

  3. 3 indri

    Usul! Simpen aja ditempatku, pasti gak repot lagi! hahaha (maksudnya mo minjem bukune gitu loooohh). Btw, dirimu ternyata cucok jd marketer ya…kalo bos-e Gramedia baca, bakal dikasih uang tip nih..hehehe. piss!!:P

Leave a Reply





Pics