
Berbulan-bulan saya mengimpikan yang sedang saya lakukan saat ini: bangun tidur terus ngeblog. Tapi yang terjadi malah lebih sempurna dari itu, Zidan yang biasanya jam segini sudah lari-larian, mau duduk manis disamping saya tanpa gebuk keyboard atau lempar mouse. Kali ini ia lebih suka menarik-narik telinga Woofie, boneka anjing hadiah sebuah bank –btw kami memberikan nama pada setiap mainan Zidan-.
Semuanya karena Internet. Sudah lama Fifi mengeluh tidak bisa gaul karena tidak ada internet. Saya lebih mengeluh lagi karena tidak bisa ngeblog dan browsing di pagi hari ketika otak sedang segar-segarnya. Kami berdua sadar betul bahwa internet, berapapun biayanya adalah kebutuhan yang levelnya tidak terlampau jauh dengan beras. Ia adalah alat baru yang kelak menjadi kendaraan wajib bagi semua orang untuk terhubung dengan masa depan. Internet menyediakan segalanya. Bahkan kalau kita mau iseng mencari tahu jumlah Pinguin di kutub utara mungkin akan nemu jawabnya disana.
Namun karena saya hanya pegawai rendahan, mau tidak mau kami harus memangkas anggaran bulanan dan mengais sisa rupiah demi tersedianya fasilitas ini setiap saat. Sekarang koran, internet, majalah dan buku menjadi pos yang paling menguras kantong kami. Kami merasa perangkat-perangkat itu pantas untuk diperjuangkan dengan segala daya.
Selama hampir 2 bulan saya mencari cara yang paling efektif untuk menghubungkan rumah dengan Internet kecepatan tinggi. Beragam provider dan produk saya telusuri. Mulai yang bandwith abal bin abal sampai yang super ngebut. Tapi inilah Indonesia, dimana internet menjadi barang mewah yang sangat mahal. Seorang teman di Malaysia hanya membayar sekitar 300 ribu rupiah untuk koneksi kecepatan tinggi selama 24 jam penuh. Seperlima dari harga untuk koneksi yang sama di Indonesia. Eniwei akhirnya pilihan saya jatuh pada layanan yang awalnya saya hindari: TelkomNyet Speedy. Cuma ini yang efisien, harganya sebanding dengan bandwith yang disediakan dengan kecepatan 3x dari yang biasa saya peroleh dikantor. Saya harus mengakui keunggulan mereka meski saya agak anti BUMN karena ketidakbecusan mereka mengurus uang negara dan menjual nasionalisme untuk bertahan dengan itu.
Karena internet, teh pagi bulan ini terasa lebih legit dan wangi dari teh pagi bulan-bulan lalu. Pikiran juga lebih jernih karena saya bisa memilih informasi yang saya cerna untuk sarapan. Tidak melulu berita sedih di Kompas, tapi juga berita-berita keren di Gizmodo atau ihaveanidea. Saya setuju dengan mas Arif, apapun yang kita cerna di pagi hari akan berpengaruh pada apa yang kita hasilkan sepanjang hari. Garbage in garbage out bahasa komputernya. Dan tidak seperti yang sering digambarkan beberapa ulama, menurut saya internet menyediakan lebih banyak hal positif dibanding negatifnya.
Ok Trinity, take me in!
Mas Fahroni,
Ada kok internet yg cepet (512kbps) 24jam dan unlimited trus biaya dibawah 200rb. saya gak mau bilang nama ISPnya disini nanti disangka promosi .. hehehe.
aniwe jagoin sapa nih buat musim 2007? salam buat zidan
Wah menarik itu pak. Btw saya pegang Alonso+McLaren. Dari dulu sebenernya pegang McLaren, tapi musim kemaren nggak terlalu cocok sama gayanya Kimi jadi utk sementara saya pindah ke Renault. Taun ini balik lagi. Hehe.
“Sekarang koran, internet, majalah dan buku menjadi pos yang paling menguras kantong kami. Kami merasa perangkat-perangkat itu pantas untuk diperjuangkan dengan segala daya” (Fahroni, InterNyet)
Ronn, percayalah berapapun yang keluar dari kantong untuk Buku (=sumber informasi) adalah sebuah INVESTASI.
InterNyet murah kenapa tidak mencoba wajanbolic-nya Onno, siapa tahu bisa lebih menghemat.
Njenengan pindah Jogja saja terutama di sebelah rumah atau kantor kami, dimana internet bukanlah sebuah kemewahan tetapi sebuah beban pekerjaan
Pingin sih mas, sekalian ngelamar ke rumahweb. Tapi kayanya saya nggak laku deh disana. Buat ujicoba, gimana kalo gratisin fahroniarifin.com 5 taun dulu. Ahahaha, nodong mode: ON. Sugeng rawuh mas.