Judge the cover, not the book

Ini sudah sebulan sejak buku pertamanya Fifi, Petualangan Zamar & 8 Liliput Pemusik, terbit. Novel anak setebal 200 halaman itu tiba-tiba menjadi kehebohan baru di kalangan temen-temen fifi, keluarga dan beberapa orang yang berkesempatan mendapatkannya di awal peluncuran. Sanjungan tentang ceritanya yang menarik dan gaya menulis yang menyenangkan mengalir tanpa henti lewat henfon Fifi. Sebuah SD Terpadu di Bandung bahkan menjadikannya buku wajib untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia. Well done Hunny!

Terus terang saya sebetulnya kecewa berat dengan buku ini. Saya kecewa karena penerbitnya tidak membuatkan desain sampul yang keren. Padahal mereka bukan penerbit kemarin sore, buku terbitannya sudah memenuhi rak-rak Gramedia. Jauh-jauh hari saya dan Fifi sudah membayangkan ilustrasi sampulnya bakal seperti gambar bikinan Mas Eri atau Mas Yudi Petakumpet. Sebulan sebelum buku ini terbit saya bahkan berusaha berargumentasi dengan mengatasnamakan ke-art director-an saya di depan editornya, bahwa desain sampulnya kurang merepresentasikan ceritanya.

Dengan berapi-api saya berceramah tentang pentingnya mengemas produk secara sempurna dan tentang keharusan menciptakan impresi pertama dari audiens. Tidak lupa saya ceritakan tentang tipografi yang sebaiknya iconic, harmonisasi warna dan pengaruhnya secara psikologis, efek perubahan warna akibat coating yang salah, sampai-sampai peletakan nama penulis. Kalimat sakti people judges the book by it’s cover juga sudah keluar dari tadi. Saya rapalkan istilah-istilah aneh yang biasanya hanya beredar di milis Crat-cret Circle Indonesia atau di ruang miting Chuo Senko. Sejenak saya mencerca seperti sedang menjadi juri di Citra Pariwara (yang katanya kelewat kejam dan nggak proporsional itu). Dan dalam setengah jam pertemuan, saya menghabiskan segelas besar Aqua karena kehausan setelah berpidato tanpa koma.
Begitu saya selesai, sang editor diam sejenak. Dipilihnya betul-betul kata yang tepat untuk menghentikan laju saya, lalu terdengar pelan, “Menurut riset yang kami lakukan, inilah desain yang paling cocok untuk pasar kami, jadi percaya saja mas”.

JGLERRR!!!!! Kepala saya yang sedari tadi mengembang pelan-pelan mendadak seperti diledakkan dengan SemTex dicampur 100 kg TNT. Seketika saya diam tanpa membalas karena amunisi saya tiba-tiba melempem. Ini bukan perkara siapa yang lebih benar, tapi siapa yang lebih berhak. Saya lupa, meskipun satu tim dengan fifi, tapi dalam hubungan bisnis ini saya adalah outsider. Saya tidak boleh mengatakan apapun karena kerjasama itu hanya melibatkan dua pihak, Fifi & penerbit. Sang editor tersenyum kecil menikmati kemenangannya, tidak tertawa angkuh seperti Schumy kemarin sore. Dengan malu, tidak seperti Alonso yang masih bersemangat, saya menerima kekalahan itu. Hari itu saya belajar satu hal lagi tentang menghargai pekerjaan orang lain meskipun dengan berat hati. Lagian, tahu apa saya tentang cerita fiksi. Selera buku saya jauh dari cerita-cerita fiksi, berbalik 180 derajat dengan Fifi. Hanya sedikit buku fiksi yang betul-betul saya habiskan (kecuali The Alchemist-nya Paulo Coelho yang sudah saya baca 4 kali).

Sudah sebulan sejak bukunya Fifi terpajang rapi di Gramedia, saya bahkan belum menghabiskan bab 3. Nah loooo!!!


9 Responses to “Judge the cover, not the book”

  1. 1 Riyang

    saya juga hrs beli bukunya kalo ingin baca? sbg penglaris, bolehlah dikirim 1 buku ke Jogja, saya promosikan ke teman2. sebagai gantinya, nanti saya scan pla*boy edisi september dan kirim via email. gimana ?

  2. 2 Fahroni Arifin

    Eli wrote:
    Tapi kalau indie kita kan bisa nentuin sendiri pasarnya…

    fahroniarifin:
    Kalo belum punya kapal sendiri, sebaiknya kita numpang kapal Pelni dulu kan utk nyebrangi samudera Hindia. Semakin gede & kenceng kapalnya, semakin jauh juga jarak yg bisa kita tempuh. Karena bagaimanapun, jalur indie itu titik sebarnya tidak seluas jalur konvensional. Kecuali kaya Dee tadi, dengan bikin perusahaan sendiri lalu beli space khusus di toko buku untuk jual Supernova-nya. Tapi sampe sekarang belum ada penulis lain yang berani ngikutin cara dia, karena resiko & modalnya tlalu besar.

  3. 3 siaudy

    Belum pernah sekali pun saya menyaksikan kamu berbicara berapi-api seperti yang kamu tulis di post ini ronn..

    Belum pernah juga saya menyaksikan kamu mengatas namakan ke-art director-an kamu di sebuah agency..

    *sigh*

    Sepertinya saya harus membeli buku mba vie, untuk sekadar membuktikan ucapan kamu, kalau kamu sendiri belum beres membacanya hingga halaman terakhir..

    Tapi memang betul, kalau kemasan sebuah produk akan lebih menjual kalau dibungkus dengan apik (dalam hal ini buku lho).. Terbukti kadang kalau saya mau membeli buku pun “kadang” menjadikan kemasan sebagai syarat utama, ah dasar seorang audy. Selamat ya mba vie, untuk bukunya :) Saya beli deh nanti (ronny bersikukuh untuk tidak membagikan secara gratis, dasar ronny)..

  4. 4 Fahroni Arifin

    Sekali ini aja koq Dy. Untuk mendongkrak penjualan secara singkat kadang iklannya harus hardsell. Dan hardsell itu selain nggak keliatan pinter juga harus mengorbankan banyak hal. Termasuk urat malu. Selebihnya sih karena bener-bener kesal sama penerbitnya. Hehe.

    Sodara-sodara, Audy ini copywriter yang rajin ngirim imel-imel kontemplasi. Hehe… piss Dy.

  5. 5 Indri

    Sama juga dg pemirsa tv yg bilang “ko artisnya jelek, ko ndangdut, ko bajunya mini, ko iklannya lama, ko itu2 lagi, ko ini..ko itu…” hahaha…sesekali perlu bersikap kaya editor itu kali ya, “Menurut analisis yg kami dapat, inilah yg bisa dapet rating tinggi, inilah yang dimaui pengiklan, inilah industri hiburan. Tenang aja semua sudah dipertimbangkan ko” hihihi…piss, Ron!
    (maap gak ngerti art, jd komen kasusnya ajah!)

  6. 6 -aan-

    hmm…
    cukup membingungkan bagi saya.

    terutama kalimat “menghabiskan segelas besar aqua”
    saya belum pernah liat aqua gelas dalam ukuran lain je.
    mungkin jogja kota kecil hingga telat dapet product knowledge.

    bukunya bagus kok fah..aku yakin itu.

  7. 7 giffari

    bukunya bagus tapi kofernya tak begeto bagus. (mnurut saya loh)

  8. 8 Fahroni Arifin

    Betul mas, menurut saya juga begitu :)

  9. 9 Valentine

    Want it? ,

Leave a Reply





Pics