Puisi 160 huruf
Published September 25th, 2006 in General.Sedherek, sampun dugi wulan poso, mugi-mugi ibadah kito mangkih ditampi gusti Allah kang moho ageng. Sedaya lepat nyuwun pangapunten.
Pesan dalam bahasa jawa kromo itu saya sebar secara serentak ke puluhan nomor yang masih tersisa di phonebook saya. Kalau Anda belum menerimanya, ada dua kemungkinan. Pertama pulsa saya sedang habis, atau yang kedua, nomor Anda ikut hilang bersama ratusan nomor lain dalam phonebook saya beberapa bulan lalu. Selang 2 menit kemudian, datang balasan pertama dari Riyang, sahabat saya sejak SMA yang kerjanya ngutak-atik internet itu. Bunyinya, “Dasar spammer!”.
Wuah, dasar orang IT, batin saya. Tapi setelah saya pikir-pikir, ada benarnya juga. Pesan-pesan semacam itu kalo keseringan dan kebanyakan dengan bunyi yang mirip-mirip, akhirnya akan kehilangan esensinya. Kehilangan makna secara emosional. Jadilah ia spam, apapun pembelaannya.
Beberapa jam selanjutnya saya hanya berusaha keras mengingat isi sms-sms yang dikirimkan saudara atau teman saya lebaran tahun lalu. Ternyata sulit sekali. Meski akhirnya ada juga beberapa yang berhasil saya rakit kembali, dan semuanya bukan yang berbentuk puisi. Betul, puisi!
Kebanyakan dari kita, menjelang akhir atau awal ramadhan, pasti sibuk mencari, mengkopi atau sekedar mem-forward kata yang syahdu mendayu-dayu untuk dikirimkan sebagai pesan maaf dan doa khas lebaran. Kita tidak pernah tahu-kan apakah si penerima membaca pesan itu atau langsung delete all karena memenuhi inbox. Yang jelas, kita merasa “aman” karena sudah mengirim atau membalas pesan-pesan tahunan itu. Kewajiban kita sebagai kenalan yang baik sudah tuntas.
Entah siapa yang memulai mengirim sms semacam itu. Dulu awalnya mungkin keren, tapi lama-lama koq sepertinya kita harus meninggalkan format itu ya. Kalimat seperti, “Pakde, met lebaran” kayanya lebih mengena dibanding “Indahnya malam menjumput pagi, barakah ramadhan … bla..bla..bla sampai selesai”. Yang terakhir ini keliatan lebih berusaha sih (mikirnya seharian, belum ngeditnya), tapi ya itu, meaningless, nggak touchy, nggak memorable dan jauh dari esensi (huehehehe!).
Suatu hari Yayan Sopian, benar pendiri detik.com itu, mengirim sms ke Fifi yang bunyinya begini, “Banyak orang tidak suka puisi, karena banyak puisi tidak suka orang”. Betul juga ya. Nah mulai sekarang sampai lebaran nanti, saya akan cari cara biasa aja yang ngena tapi keren, kalo bisa yang irit. Kalau Anda punya duluan, kirim ke saya juga ya. Siapa tahu bisa saya forward. Hehehe.
ya makanya lebaran kemaren aku kirim pantun ke kamu bukan? hehehe…*kl gk salah siyy. Ngakunya takut komen ko semua dikomentari hihihi*