Siapa Punya Pantas
Published May 26th, 2007 in General.

Apa yang Anda harapkan ketika akan ber-reuni dengan teman-teman SMA? Kalau boleh saya bersaran, sebaiknya jangan berharap apa-apa. Bersiap saja dengan gembira, karena kita akan bertemu orang-orang baru, meski kita sudah pernah kenal. Tidak ada yang bisa meramal perubahan seseorang dari usia SMA menuju kematangannya. Tiba-tiba mereka tumbuh menjadi pribadi yang betul-betul berbeda. Mengesankan! Itu sebabnya saya bersemangat sekali jum’at malam kemarin.
Di Plaza Semanggi, beberapa teman seangkatan SMA di Yogya dulu sepakat untuk bertemu. Kami tahu tidak akan banyak yang datang, karena yang sekarang tinggal di Jakarta memang baru sedikit. Dan benar, dari target 15 hanya 4 yang datang. Hehehe.
Tidak terlalu penting berapa banyak yang datang. Toh disana kami akhirnya seperti berkenalan dengan orang-orang baru. Si A yang dulu begitu, sekarang begini. Si B dulunya itu sekarang ini. Masing-masing punya cerita menarik yang mirip novel petualangan bikinannya Fifi. Dan 4 orang saja sudah cukup untuk menghabiskan setengah malam.
———–
Bagi kami yang dari Jogja, menembus Jakarta itu seperti kemenangan. Seringkali jadi penanda keberhasilan dan bukti kepintaran. Padahal disini, banyak yang biasa saja tapi berhasil. Suatu kali saya pernah protes ke atasan saya. Kenapa banyak orang yang sebenarnya tidak layak bekerja tapi malah dapat posisi yang menyenangkan, dengan gaji besar pula. Mereka tidak berhak, papar saya. Tidak adil ketika diluar sana banyak orang yang benar-benar mampu tapi malah nganggur. Jawaban beliau sederhana saja, “Darimana kita tahu seseorang berhak atau tidak?”
Seseorang berhak mendapat reward bukan hanya karena dia pintar. Bisa jadi dia sangat berbudi atau punya jasa dimasa lalu, sehingga bekerja pada posisi penting meski tidak seberapa mampu adalah reward yang pantas untuknya. Alasan yang sangat masuk akal.
Ada teman SMA yang baru seminggu bekerja disebuah perusahaan besar akhirnya menerima suara miring. Dulu sekolahnya nggak serius koq sekarang bisa dapat kantor prestisius. Pas kuliah juga nggak lebih serius, sering tawuran pula. Banyak yang bergunjing, tentunya yang merasa sekolahnya benar dan cukup-cukup pintar. Tapi hey! Siapa yang mengira bahwa si teman itu bisa jadi sangat menguasai manajemen berwiraswasta, ditambah kemampuan lobby yang diatas rata-rata. Siapa yang menduga bahwa saat bolos kuliah mungkin saja dia mengelola sebuah usaha iseng-isengan, tapi dengan hasil beneran. Atau bisa saja ternyata selama bertahun-tahun Ibunya berdoa untuk kesuksesannya. Dan inilah rewardnya.
Mampu dan tidak mampu, berhak atau tidak itu sangat intangible, tidak bisa diukur dengan kasat mata meski dibantu jari. Tidak ada yang tahu ketika seseorang memiliki kemampuan alami yang luar biasa dibalik kepolosannya. Toh Steve Jobs juga hanya kuliah satu semester untuk bisa menciptakan Mac yang mengagumkan itu. Tuhan lebih tahu apa yang dilakukan-Nya.
Masih kata bos saya waktu itu, memangnya kenapa kita bisa merasa paling berhak? Jangan GR deh.
hahahha…
kamu memang pinter mendramatisir.
dasar orang iklan. ehuheuheuehe
Aku dulu pas mau ke jakarta juga takut klo skillnya kurang… ternyata pas dah disini ketemu banyak orang yang skillnya biasa biasa aja… malah lebih jelek… hekhekhek…
Jadi ingat kata-kata bijak yang makin terkenal karena sebuah iklan rokok: ‘Tua itu pasti, Dewasa itu pilihan’. Rentang waktu antara kelulusan SMA dan masa kini, bisa berarti sebuah peluang bagi yang mampu memanfaatkannya. Tapi, bisa juga hanya menjadi ’sebuah pergantian tahun’ saja.
Tanpa arti. Tanpa makna.
Saya pernah bertanya, “Mengapa sih banyak orang yang suka menghadiri reuni?” Ada banyak jawaban memang. Namun buat saya, reuni tak hanya sekadar mengenang masa indah ataupun duka. Saya mencoba ‘ntuk belajar dari pertemuan kembali tersebut. Mencoba mengamati perubahan-perubahan yang terjadi dan berusaha mensintesa menjadi sebuah ibroh (=pembelajaran).
Kehidupan adalah sebuah perubahan. Sebuah tanda tanya besar. Terkadang kita mencoba mengatur dan berhasil. Terkadang pula sangat sulit ditebak.
Mungkin hanya kemauan untuk selalu belajar dan beradaptasi dengan perubahan yang akan membuat hidup ini menjadi lebih indah dan bermakna.
Ada yang tidak berbeda Bud, pola pikirmu. Dari dulu tetap mengesankan
Hueheuehue Aku ngerti sopo sek diomongke iki… Tapi Fah, aku kok ora? mentang-mentang ora katut seleksi mlebu Jakarta.
apik bung!
wew,cobalah melihat seseorang bukan dari hasil yang dicapai kemudian melihatnya dengan iri ,tapi cobalah apresiasi proses yang harus dijalani untuk mendapatkn hasil tersebut.penghargaan yang pantas hanya ada bila hasil dicapai dengan keringat,darah dan airmata,bukan melalui jalan pintas,sebab sedikit sekali orang didunia ini yang dikaruniai oleh Tuhan dengan “keberuntungan”….
salam kenal…
aku mbake org yg kamu ceritakan
hehehe
smg di jakarta, ia gak tawuran lg ya
ur boss’s word r very interesting!
btw i ask ur permission to copy the picture above,,
+aLay+